2 Pemicu Utama Ekspor UMKM Indonesia Jauh Tertinggal dari Malaysia

Export produk usaha micro dan kecil (UMKM) di Indonesia masih ketinggalan jauh dibanding export UMKM dari beberapa negara lain di teritori Asia Tenggara (ASEAN). Hal tersebut diutarakan Julius, salah satunya koperasi di bagian keproduktifan dan daya saing dan staff pakar usaha kecil dan menengah.

“Jika menyaksikan export Thailand, Malaysia, terutamanya UMKM kalah export, wah justru kurang,” kata Julius dalam diskusi kerja-sama export untuk export digital pada 2022 di Jakarta.

Jatah export produk UMKM masih 14 %. Angka ini jauh di bawah jatah export UMKM negara ASEAN yang lain.

“Jika disaksikan (export UMKM Indonesia) naik 12% dan 14%, dan dibanding dengan Thailand, Malaysia, dan lain-lain jauh sekali,” terangnya.

Julius menjelaskan rendahnya export produk UMKM Indonesia karena dua factor. Pertama, kekuatan export aktivitas aktor UMKM rendah.

“Saya kedapatan tidak dapat export. Saya tidak punyai kualitas export, saya tidak punyai sertifikasi yang kuat, saya tidak paham langkah export. Itu permasalahan pertama,” terangnya.

Rumor ke-2 berkaitan dengan intelijen pasar atau kompetensi marketing. Mengakibatkan, pasar export produk UMKM Indonesia terbatas di beberapa negara tertentu.

“Karena kita masih mengekspor ke tujuan tradisionil, kita tidak betul-betul cari wilayah yang lain kekuatannya mengagumkan,” terangnya.

Oleh karenanya, dia mengharap Program Sekolah Export jadi jawaban atas kenaikan export produk UMKM Indonesia di depan. Kami yakini program ini sebagai hasil kolaborasi di antara pemerintahan, penopang kebutuhan usaha export, dan penopang kebutuhan berkaitan yang lain.

Awalnya, Koperasi dan Kementerian Usaha Kecil bekerja bersama dengan Kampus Katolik Parahyangan dalam rencana pendayagunaan warga. Bijak Rahman Hakim, perwakilan Koperasi dan Kementerian UKM, sudah tanda-tangani nota kesepakatan dengan Pertama Menteri UNPAR Mandar Situmoran di bagian pengajaran, riset dan dedikasi ke warga.

“Kami mempunyai 64 juta UMKM, karena rasio kewiraswastaan cuman 3,47% atau relatif rendah dibanding negara lain,” kata Bijak Bandung, Selasa (21/12).

Lewat kerja sama ini, SesKemenkopUKM Bijak Rahman Hakim menolong pemerintahan, akademiki dan mahasiswa bersinergi untuk capai rasio kewiraswastaan yang semakin tinggi, khususnya di kelompok milenial, dan menyiapkan angkatan muda untuk pembangunan ekonomi negara yang saya harap jadi sasaran.

Dia yakin jika golongan muda mempunyai peluang untuk meningkatkan wiraswastawan masa datang. Menurut Sensus Tubuh Pusat Statistik (BPS) 2020, 64,69 % atau 173,48 juta warga Indonesia ialah Milenial, Gen Z, dan Alpha. Dalam pada itu, Institut SMERU memperlihatkan jika 73% anak muda Indonesia berminat untuk jadi wiraswasta.

 

Menurut dia, untuk mengawali jadi seorang wiraswasta harus dilaksanakan dengan design. Ini memiliki arti jika training terus-terusan dibutuhkan. Belajar dari Amerika Serikat, peningkatan sumber daya manusia dan peningkatan sumber daya manusia harus dilaksanakan oleh sejumlah profesional, bukan karyawan separuh waktu.

“Presentasi harus juga diberi oleh pebisnis dan pegiat langsung, seperti advokat, professional marketing perusahaan,” kata Bijak.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *