KPPI Selidiki Kasus Lonjakan Impor Kain yang Rugikan Industri Tekstil

Komisi Keamanan dan Perdagangan Indonesia (KPPI) memulai penyelidikan pada Senin (25/4) tentang perpanjangan langkah pengamanan terhadap lonjakan impor tekstil.

Survei tersebut menyusul permintaan perpanjangan survei yang diajukan oleh Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) pada Senin lalu, yang mewakili produsen produk tekstil dalam negeri.

“Dari bukti pertama permintaan perpanjangan penyidikan yang diajukan oleh API, KPPI memperoleh fakta bahwa jumlah impor tekstil meroket dan ada kerugian yang signifikan atau ancaman kerugian yang signifikan bagi pemohon,” kata. Presiden KPPI Mardjoko, Rabu (27/4).

Menurut Dokumen Kepabeanan dan Kepabeanan Indonesia (BTKI) 2017, survei impor kain ini mencakup 107 nomor Sistem Harmonisasi (HS) 8 digit.

Dari lima segmen barang yang diperiksa, yakni 107 nomor HS yang terbagi atas kain dari bahan katun. Kain serat stapel sintetis dan buatan; Kain benang filamen sintetis dan buatan; Kain khusus dan kain rayon. Dan kain rajut.

Ia menambahkan, hal itu terlihat dari beberapa indikator kinerja industri dalam negeri yang memburuk antara 2019 hingga 2021.

Ada beberapa indikator yang merugikan industri TPT dalam negeri, seperti berlanjutnya kerugian ekonomi akibat penurunan produksi dan penjualan dalam negeri. Peningkatan persediaan akhir karena peningkatan jumlah produk yang tidak terjual. Berkurangnya produktivitas; berkurangnya kapasitas yang digunakan. Menurunnya jumlah tenaga kerja, serta menurunnya pangsa pasar pelamar di pasar domestik.

Saat ini, API membutuhkan lebih banyak waktu untuk secara optimal menyelesaikan program penyesuaian struktural yang dijanjikan sebelumnya.

Mengutip data Badan Pusat Statistik selama periode 2019-2021, impor TPT mengalami penurunan dengan tren 21,56 persen. Pada saat yang sama, impor turun 42,58 persen. Namun, dari 2020 hingga 2021, impor akan meningkat sebesar 7,16 persen.

Sebagian besar impor kain Indonesia berasal dari China, Korea Selatan, Vietnam, Hong Kong, Taiwan dan Malaysia.

China memiliki impor kain tertinggi, dengan pangsa impor 48,87% pada tahun 2021, Korea Selatan 12,99%, Vietnam 9,98%, Hong Kong 9,45%, Taiwan 7,03% dan Malaysia 5,58%.

Sehubungan dengan itu, KPPI merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan mendaftar sebagai pemangku kepentingan paling lambat 15 hari sejak tanggal pengumuman ini.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *