Pengguna di Indonesia Kini Bisa Nonton Video Podcast di Spotify

Spotify sah umumkan feature baru yang dapat dicicipi beberapa pemakai di Indonesia, yaitu Video Podcast. Sama sesuai namanya, feature ini memungkinkannya pemakai melihat video podcast dari beberapa inisiator kesukaannya.

Untuk dipahami, feature Video Podcast sendiri telah launching pada 2021 di beberapa negara dan sekarang Spotify meluaskan lingkupnya, terhitung ke Indonesia.

Menurut Head of Studios Spotify Southeast Asia, Carl Zuzarte, faksinya memang cari langkah baru untuk menambahkan pengalaman untuk mendekatan podcaster dengan pendengarnya.

“Dengan dikenalkannya Video Podcast, Spotify ingin memberi pengalaman yang lebih lengkap ke pencinta podcast,” papar Carl dalam info sah yang diterima, Kamis (14/7/2022).

Keinginannya, pengembangan ini dapat turut lebih memajukan industri podcast di Indonesia.

Sebagai permulaan, ada banyak acara podcast terkenal yang telah memberikan dukungan content ini, seperti BKR Brothers, Do You See What I See, Rintik Sedu, Rekan Tidur, Kita dan Waktu, RAPOT, The Friday Podcast (MAKNA Talks), Suara Puan, Mendoan, dan beberapa acara yang lain.

Nanti, walau tampil berbentuk video, Spotify memungkinkannya pemakai untuk berpindah ke model audio saja secara mudah. Untuk dapat mendapati content video di Spotify, baca beberapa langkahnya berikut:

Membuka program Spotify di HP

Membuka salah satunya dari daftar opsi podcast, datangi situs adegan

Pencet ‘Putar’ pada adegan podcast opsi

Pencet Play Bar pada bagian bawah monitor untuk tampilkan video full-screen

Lalu, kamu langsung bisa melihat video podcast favorite

Spotify juga menyebutkan yang akan datang content video podcast semakin lebih banyak datang di platformnya. Ini bersamaan dengan keringanan yang diberi pada beberapa inisiator untuk mengupload video podcast punya mereka lewat Anchor, basis punya Spotify.

Di lain sisi, Spotify barusan umumkan pembangunan Dewan Penasihat Keamanan (Safety Advisory Council), yang mempunyai konsentrasi di bagian keamanan dalam basis audio itu.

Lewat info di situs resminya, diambil Selasa (14/6/2022), Spotify mengeklaim jika dewan seperti ini sebagai yang pertama di perusahaan audio besar.

Anggota pendiri dari dewan ini ialah pribadi dan organisasi yang mempunyai ketrampilan dalam di sektor-sektor kunci untuk mengarahkan ruangan keamanan online.

“Di tingkat tinggi, visi dewan ialah menolong Spotify meningkatkan peraturan dan produknya secara aman sekalian pastikan kami menghargai gestur pembikin content,” catat Spotify.

Basis streaming audio asal Swedia itu mengutarakan, anggota dewan nanti akan memberi anjuran ke team yang bergerak dalam sektor-sektor khusus seperti peraturan dan peningkatan feature keselamatan.

Mencuplik CNBC, beberapa permasalahan yang hendak memperoleh saran misalkan seperti ajaran kedengkian, disinformasi, berlebihanisme, dan online abuse.

Mereka akan membantu pendekatan Spotify, pada kesetaraan, imbas, dan riset akademik. Walau demikian, anggota dewan ini tidak membuat keputusan penegakan hukum mengenai content atau inisiator tertentu.

“Tetapi, saran mereka akan memberitahukan bagaimana kami membuat peraturan tingkat tinggi kami dan proses intern yang dituruti team kami untuk pastikan jika peraturan diaplikasikan secara stabil dan dalam jumlah besar di penjuru dunia,” kata Spotify.

Selanjutnya, perusahaan menjelaskan jika ingat produk mereka terus akan berkembang dan berkembang, keanggotaan dewan akan turut berkembang bersamaan dengan itu.

“Dalam beberapa waktu di depan, kami akan bekerja bersama dengan anggota pendiri untuk meluaskan dewan, dengan arah meluaskan representasi regional dan ilmu bahasa dan menambah pakar tambahan di di dalam ruangan kesetaraan dan imbas,” tambah Spotify.

Beberapa anggota awalnya dewan ini ialah Dangerous Speech Proyek yang diwakilkan oleh Profesor Susan Benesch dan Tonei Glavinic, dan Center for Democracy and Technology yang diwakilkan Emma Llansó.

Ada Profesor Danielle Citron, Dr. Mary Anne Franks, Alex Holmes, Institute for Taktikc Dialogue yang diwakilkan Henry Tuck dan Milo Comerford, Dr. Jonas Kaiser, dan Kinzen yang diwakilkan oleh pendirinya Mark Little dan Aine Kerr.

Anggota lain ialah Dr. Ronaldo Lemos, Dr. Christer Mattsson, Dr. Tanu Partner, Desmond Upton Patton, PhD, MSW, Megan Phelps-Roper, dan USC Annenberg Inclusion Initiative yang diwakilkan Katherine Pieper and Stacy L. Smith.

Ingat status dewan ini yang cuma penasihat, Spotify juga bisa terima atau menampik anjuran pada mereka.

Tidak seperti dewan pengawas Facebook yang putuskan kasus apa yang dibahas, Spotify-lah yang hendak ajukan permasalahan ke dewan untuk diperhitungkan dan terima operan balik.

Sarah Hoyle, Head of Kepercayaan and Safety di Spotify menjelaskan, dewan penasihat ini tidak dibuat sebagai reaksi pada “inisiator atau situas tertentu.”

Bukannya, mereka jadi pernyataan atas rintangan menjalankan service global, ketika teror semakin berkembang.

“Bagaimana kami tingkatkan ketrampilan intern yang telah kami punyai di Spotify, untuk manfaatkan beberapa orang ini yang tugas hidupnya sudah pelajari ini, dan mereka berada di pasar di penjuru dunia, sama dengan pemakai kami, seperti inisiator kami,” kata Hoyle.

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *